Asal Usul Agama Hindu dan Budha Lengkap

Dalam sejarah kebudayaan India. Sejarah dan asal usul agama Hindu dan Buddha merupakan unsur yang sangat penting. Agama Hindu dan Buddha tersebar di seluruh dunia sehingga berkembang dan dianut sebagian masyarakat didunia, termasuk Indonesia. Oleh karena itu, perlu kiranya kita mengetahui asal usul agama Hindu dan Buddha.


sejarah agama hindu budha
Hindu Budha


Sejarah Agama Hindu

Berbicara tentang agama Hindu kita tidak dapat lepas dari perkembangan kebudayaan lndia. Budaya India berkembang sejak kedatangan bangsa Arya pada lebih kurang tahun 150 SM. Bangsa Arya adalah bangsa pengembara yang menetap di Punjab. Kedatangannya mendesak bangsa Dravida yang telah tinggi peradabannya. 

Lama kelamaan terjadi percampuran antara kedua bangsa itu dan lahirnya kebudayaan Hindu. Budaya Hindu lebih banyak terpusat pada pandangan hidup dan agama. yang bersumber pada agama Hindu dan agama Buddha.

Kitab suci agama Hindu adalah kitab Weda. Kitab suci ini memuat ajaran-ajaran tertinggi. Kitab Weda dalam arti sempit terdiri atas empat Samhita (himpunan) yaitu:
1) Regweda betisi pujian terhadap para dewa,
2) Samaweda berisi syair-syair,
3) Yajurweda berisi doa-doa pengantar sesaji, dan
4) Atharmaweda berisi mantra untuk sihir dan ilmu gaib.

Dalam arti luas selain kitab-kitab Weda, Samhita meliputı juga kitab Brahmana dan kitab Upanishad. Kitab Brahmana adalah kitab suci yang menguraikan dan menjelaskan hal hal tentang sesaji dan upacara. Kitab Upanishad berisi ajaran ketuhanan dan makna hidup. Pada zaman Weda dikenal banyak dewa. Nama dewa-dewa dihubungkan dengan kekuatan tenaga alam yang menguasai hidup manusia.


Adapun dewa-dewa itu adalah Dewa Agni (Dewa api), Dewa Bayu atau Dewa Angin, Dewa Surya (matahari), Dewa Candra (bulan), dan Dewa lndra (Dewa petir). Di antara dewa-dewa itu yang terkemuka dan banyak dipuja adalah Dewa lndra dan Dewa Agni. Dewa lndra akan melepaskan petir dan mendatangkan hujan yang berguna bagi pertanian, sedangkan Dewa Agni (dewa api) mempunyai kedudukan istimewa karena api selalu diperlukan oleh manusia. Dalam setiap upacara pemujaan kepada para dewa api tidak boleh ditinggalkan bahkan menjadi syarat utama.


Selain dewa-dewa, masyarakat India juga mengenal pembagian kasta. Masyarakat India dibagi dalam empat kasta atau catur warna yaitu:

1) Kasta Brahmana yaitu kasta pendeta
2) Kasta Ksatria yaitu kasta raja dan kaum bangsawan;
3) Kasta Waisya yaitu pedagang dan kaum buruh
4) Kasta Sudra yaitu kasta petani dan buruh kecil serta para budak. 

Kasta Brahmana adalah kasta yang paling berperan, karena merekalah yang dapat melakukan sesaji secara sempurna. Dalam agama Hindu sesaji merupakan upacara yang sangat penting. Oleh karena itu, harus dilakukan sebaik-baiknya agar tidak menimbulkan bencana bagi keluarga. 


Agar tidak terjadi kesalahan dalam membuat sesaji, maka dibuatlah kitab penuntun yang disebut kalpasutra. Sesaji sering dilakukan oleh keluarga sendiri dalam bentuk kecil. Tujuannya adalah
untuk keselamatan para anggota keluarga.

Selain kasta, masyarakat India juga mengenal empat tingkatan kehidupan yang disebut caturasrama sebagai berikut:

1. Brahmacarin adalah tingkatan kehidupan anak-anak berusia satu tahun. Pada usia ini anak-anak berada dalam asuhan guru untuk mendapat berbagai pengetahuan.
2. Grhastha merupakan tingkatan anak telah tamat belajar dan kembali kepada orang tuanya. Kemudian dikawinkan dan membina sebuah keluarga. Keluarga itu berkewajiban menyelenggarakan sesaji.
3. Wanapprastha (penghuni hutan). Setelah berkeluarga mempunyai anak dan cucu. Pada saat mereka telah mendapatkan cucu pertama kali, biasanya akan meninggalkan keluarganya seorang diri atau bersama istrinya. Kemudian menjalani tingkatan ketiga hidup di dalam hutan sebagai wanapprastha. Dalam tingkatan ini biasanya orang bertapa dan merenungkan makna hidup yang sebenarnya.
4. Sanyasini atau pariwrajaka merupakan tingkatan terakhir dari kehidupan manusia. Pada tingkatan ini orang menjadi pertapa, mengembara kesana kemari. la tidak mempunyai tempat yang tetap dan tidak memiliki apa-apa lagi. Pengembaraan yang mereka lakukan berlangsung sampai meninggal dunia.

Pemujaan kepada para dewa diwujudkan dalam bentuk patung patung. Agama Hindu mengenal adanya Trimurti sebagai kesatuan tiga dewa tertinggi. Trimurti berarti tiga badan dari dewa tertinggi agama Hindu. Seluruh kehidupan alam semesta adalah kekuasaan Trimurti. Kekuasaan itu ada tiga macam yaitu menciptakan, memelihara, dan membinasakan atau menghancurkan. Ketiga dewa itu adalah Dewa Brahma (dewa pencipta), Dewa Wisnu (dewa pemelihara), dan Dewa Siwa (dewa pembinasa).


Pemeluk agama Hindu dibagi menjadi dua golongan besar yaitu golongan Waisnawa (pemuja Dewa Wisnu) dan golongan Saiwa (pemuja Dewa Siwa).



Sejarah Agama Budha 

Pada awalnya agama Buddha itu sebenarnya bukan agama dalam arti tuhan atau dewa. Buddha merupakan suatu ajaran untuk membebaskan manusia dari Iïngkaran sengsara atau penderitaan. Buddha sebenarnya bukan nama orang melainkan sebutan untuk menamakan orang yang telah mencapai ”boddhi”. yaitu orang yang telah mendapat wahyu dan telah sadar akan makna hidup.

Pada saat ini, Buddha yang kita kenal adalah orang yang mendirikan atau memeluk agama Buddha. Mula-mula ia adalah seorang putra raja dari keluarga kaya bernama Siddartha. Pangeran ini lahir di Kapilawastu. Ayahnya adalah Raja Suddhodana dan ibunya bernama Maya. 


Pangeran Siddharta mempunyai seorang istri dan seorang putra. Pada masa kecilnya Siddharta diramalkan akan menjadi penguasa dunia. Oleh sebab itu. Raja Suddhodana menjaga dan memanjakan dengan kesenangan dan kemewahan dunia. Siddharta dijaga agar tidak mengenal susah atau sengsara (penderitaan).

Akan tetapi, Siddharta lama kelamaan bosan akan kemewahan dan kenikmatan itu. Siddharta mulai merenungkan peristiwa- peristiwa yang terjadi di sekitarnya. Ada empat peristiwa yang menarik perhatiannya. Ia melihat ada orangtua, melihat orang mati, dan menjadi mayat. Kemudian ia melihat seorang pendeta.


Dari peristiwa itu Siddharta merenungkan dan berpendapat bahwa hidup manusia tidak dapat terhindar dari peristiwa-peristiwa sakit, tua, mati, dan menjadi mayat. Semua peristiwa itu adalah penderitaan bagi umat manusia. 


Oleh karena itu, Siddharta menyimpulkan bahwa jalan hidup pendeta adalah jalan hidup yang paling baik untuk diikuti. Sebab pendeta mengatasi segala penderitaan dunia dengan hati yang suci dan jiwa yang tenang.

Dengan hati yang bulat Siddharta meninggalkan istana dengan segala kemewahan, anak, dan istrinya. Siddharta mengembara sebagai pendeta dari satu tempat ke tempat lain. la mendapat gelar Sakyamuni, yakni pendeta dari keluarga Sakya


Siddharta ingin mencari pengetahuan sejati akan makna hidup. Berbagai guru ia datangi, berbagai ilmu ia pelajari, dan berbagai cara hidup dengan bertapa ia jalani. Enam tahun lamanya ia menjalani kehidupan itu. Akan tetapi belum juga memperoleh kepuasan hidup.

Pada suatu saat sampailah ia di suatu tempat yang bersama Gaya. la duduk bersemedi di bawah pohon (pohon itu sekarang bernama pohon boddhi). Saat bersemedi di tempat itu ia mengalami godaan-godaan. Serangan berupa godaaan yang sangat besar dari raja setan yang bernama Mara. Usaha Mara menggagalkan Siddharta akhirnya gagal. 


Pada malam purnama bulan Waisak (April-Mei) Siddharta mencapai apa yang dicita-citakannya. Beliau mencapai bodhi atau kesadaran Samyaksamboddhi atau kesadaran yang sempurna. Selama bersemedi, Siddharta dapat mengetahui segala yang terjadi di masa lampau sebelum ia dilahirkan sebagai Siddharta. 

Kemudian ia mengetahui segala kejadian yang sedang berlangsung. Pada tahap yang ketiga menjelang tengah malam ia mengetahui tentang sebab yang sebenarnya dari penderitaan itu dan bagaimana cara mengatasinya. Kini ia menjadi Buddha, seminggu lamanya ia masuk nirwana menikmati pelepasan dari sengsara (penderitaan). Namun akhirnya ia teringat akan nasib umat manusia yang hidupnya diliputi penderitaan.

Terdorong oleh perasaan iba hatinya untuk menolong umat manusia, Siddharta memutuskan untuk menyebarkan ajarannya. Empat puluh lima tahun lamanya ia menyebarkan ajarannya dan berhasil mendapatkan pengikut yang sangat banyak dari berbagai lapisan masyarakat. 


Faktor keberhasilan penyebaran ajaran Buddha karena di dalam Buddha tidak mengenal perbedaan dalam masyarakat atau tidak mengenal kasta. Bahkan binatang pun tidak berbeda dengan manusia karena binatang dipercaya sebagai jelmaan dari manusia akibat hukum karma.

Agama Buddha juga mengenal hukum karma, yaitu pembalasan atau ganjaran kepada manusia dalam hidupnya. Setiap manusia dapat mencapai nirwana atau surga, asalkan orang itu mempunyai budi pekerti baik, jujur. suka beramal. dan bekerjasama dengan orang lain. Pada usia 80 tahun, Siddharta wafat ketika berada di desa Kusinegara (48 Sebelum Masehi). la masuk nirwana untuk selama-lamanya sehingga disebut mencapai nirwana yang sempurna atau Parinirwana.


Tempat-tempat Siddharta mengalami peristiwa-peristiwa penting dalam hidupnya dianggap sebagai tempat suci. Tempat-tempat tersebut kemudian menjadi tujuan ziarah bagi umat Buddha. Berikut tempat-tempat penting tersebut:

1. Kapilawastu, tempat kelafiiran Sang Buddha,
2. Bodi Gaya, tempat Sang Buddha bersemedi/bertapa mendapatkan wahyu dan mencapai boddhi,
3. Samaria (dekat kota Benares). tempat Sang Buddha memberikan wejangan pertama kali, dan
4. Kusinegara, tempat Sang Buddha wafat.

Kitab suci agama Buddha adalah Tripitaka yang memiliki arti tiga keranjang. Hal ini dikarenakan kitab suci Tripitaka terdiri dari tiga himpunan yang masing-masing berisi pokok ajaran agama Buddha. Ketiga Pitaka itu sebagai berikut:

1) Winayapittaka, berisi segala macam peraturan dan hukum yang menentukan cara hidup para pemeluknya,
2) Sutrantapittaka. berïsi wejangan wejangan sang Buddha, dan
3) Abhidharmapittaka, berisi penjelasan dan kupasan soal keagamaan.

Baca artikel lainnya tentang Teori Masuknya Hindu Budha ke Indonesia

Para pemeluk agama Buddha mempunyai ikrar yang disebut Tri Sarana (tiga tempat berlindung) yaitu

- Saya berlindung kepada Buddha, 
- Saya berlindung kepada Dharma, 
- Saya berlindung kepada Sanggha. 

Buddha adalah tokoh sejarah yang mendirikan agama Buddha. Dharma adalah ajaran agama Buddha dan Sanggha adalah masyarakat pemeluk agama Buddha. Dalam ajaran agama Buddha ada empat kebenaran utama, yaitu:

1) Hidup adalah penderîtaan atau sengsara.
2) Penderitaan disebabkan oleh hasrat untuk hidup,
3) Penderitaan dapat dihentikan dengan menindas hasrat hidup. dan
4) Hasrat untuk hidup dapat ditindas dengan delapan ajaran kebenaran (astavida). Delapan ajaran kebenaran yaitu pandangan yang benar, sikap yang benar, perkataan yang benar, tıngkah laku yang benar, mata pencaharian yang benar, usaha yang benar, perhatian yang benar, dan semedi atau bertapa yang benar.

Demikian Asal usul agama Hindu dan Budha Lengkap dari awal mula dan ceritanya. Semoga bisa membantu dan bermanfaat bagi para pembaca. Simak terus ulasan lengkap pengetahuan dan sejarah di blog Sejarah Nasional.

Subscribe to receive free email updates: