Senin, 27 November 2017

Sejarah Kerajaan Mataram Islam Lengkap

Sejarah Kerajaan Mataram Islam - Kerajaan Mataram Islam merupakan salah satu kerajaan Islam di IndonesiaKerajaan Mataram ini tidak ada hubungannya dengan Kerajaan Mataram masa Hindu-Budha. Kebetulan saja nama yang sama dipakai lagi pada masa Islam berkembang. Mungkin juga pemakaian nama ini ada hubungannya dengan upaya untuk mengagungkan kembali kebesaran masa lalu. 

Sejarah Kerajaan Mataram Islam 

Keraton Kerajaan Pajang dipindahkan ke Mataram pada tahun 1586. Senopati mengangkat dirinya menjadi raja Mataram. Ia segera meluaskan kekuasaannya. Mula-mula terj adi perselisihan dengan Surabaya. Berkat usaha Sunan Giri, perselisihan itu dapat dicegah menjadi perang. Surabaya tidak ditaklukkan, tetapi bersedia mengakui kekuasaan Senopati. 


peninggalan kerajaan mataram islam
peninggalan kerajaan mataram islam

Sementara itu, Madiun dan Ponorogo mengangkat senjata, namun berhasil dikalahkan oleh Mataram. Setelah itu, Senopati menyerang Pasuruan, Panarukan, dan Blambangan pada tahun 1587. Ketiga daerah itu belum menganut agama Islam. Usahanya tidak berhasil karena setelah tentaranya kembali ke Mataram, daerah itu kembali menjadi negara merdeka. 

Setelah daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur tunduk, Senopati kemudian menyerang Cirebon. Ia berhasil memaksa Cirebon dan Galuh mengakui kekuasaannya pada tahun 1595, sedangkan Pati dan Demak memberontak. Mereka berhasil mendekati ibu kota Mataram. Namun, dengan pasukan berkudanya, Senopati berhasil menghancurkannya. 

Senopati meninggal dan dimakamkan di Kota Gede pada tahun 1601. Ia berhasil meletakkan dasar-dasar Kerajaan Mataram. Penggantinya ialah Mas Jolang atau Panembahan Seda ing Krapyak. Ia harus menghadapi banyak pemberontakan. 

Mula-mula Demak, tiga tahun lamanya (1601 -1604) terjadi kerusuhan. Lalu, disusul pemberontakan Ponorogo, tetapi, pemberontakan ini dapat diatasi. Surabaya tidak mau mengakui lagi kekuasaan Mataram pada tahun 1612. Meskipun Mas Jolang berhasil menguasai Mojokerto, Gresik, dan membakar daerah sekitar Surabaya, nam un Surabaya tetap bertahan. Mas Jolang meninggal dan dimakamkan di Kota Gede pada tahun 1613. 

Penggantinya ialah Adipati Martapura. Ia tidak sanggup memegang tampuk pemerintahan karena sakit-sakitan. la digantikan oleh saudaranya, Raden Rangsang atau dikenal dengan gelar Sultan Agung. Di bawah pemerintahannya, Kerajaan Mataram menjadi kerajaan yang disegani tidak saja di Pulau Jawa, tetapi sampai ke pulau-pulau lainnya.

Pemerintahan Sultan Agung mula-mula berpusat di Kerta, lalu dipindahkan ke Plered. Permusuhan dengan Surabaya tetap berlangsung. Berkat tembok kotanya yang kuat dan dikelilingi rawa-rawa, Surabaya dapat bertahan dari setiap serangan yang datang.

Surabaya menyerang Mataram dengan bantuan Kediri, Tuban, dan Pasuruan pada tahun 1614. Mula-mula mereka mendapat kemenangan, tetapi kemudian dihancurkan Mataram di daerah Wirasaba (Mojokerto sekarang). Tahun 1617 Lasem, Pasuruan, dan Tuban (1620) dikalahkan. Sultan Agung menyerang Sukadana di Kalimantan yang merupakan sekutu Surabaya pada tahun 1622. 

Mataram menyerang Madura pada tahun 1625. Pamekasan dan Sumenep tidak berdaya. Adipati Sampang diangkat menjadi adipati Madura dengan gelar Pangeran Cakraningrat I oleh Sultan Agung. Surabaya ditundukkan Mataram pada tahun 1625, walaupun memperoleh bantuan Belanda. 

Jatuhnya Surabaya berarti seluruh Jawa Tengah dan Jawa Timur, kecuali Blambangan dan Sukadana, mengakui kekuasaan Mataram. Persatuan itu diperkuat dengan ikatan perkawinan antara para adipatinya dengan putri-putri Mataram. Sultan Agung sendiri menikah dengan putri Cirebon sehingga Cirebon juga mengakui kekuasaan Mataram. 

Dalam usahanya menyatukan seluruh Jawa, Sultan Agung bermaksud menyerang Banten karena tidak mengakuinya sebagai penerus Kerajaan Demak. Penyerangan Banten ditunda, karena Sultan Agung hendak menyerang Batavia lebih dahulu. Sultan Agung tahu bahwa Belanda tidak ingin melihat Mataram terlalu berkuasa. Sultan Agung menyerang Batavia pada tahun 1628. Usaha itu gagal, karena tentara Mataram kekurangan perbekalan. 

Untuk menjamin perbekalan dalam penyerangan Batavia yang kedua (1629) Sultan Agung mendirikan lumbung-lumbung padi di sekitar Cirebon dan Krawang. Serangan itu didukung pula dengan perahu-perahu yang bermuatan beras di perairan sekitar Batavia. 

Usaha itu juga gagal karena perahu-perahu bermuatan beras tidak mampu menghadapi kapal Belanda. Persediaan beras dibakar oleh mata-mata Belanda. Tentara Mataram yang mengepung Batavia kelaparan dan terjangkit bermacam-macam penyakit. Hal itu menyebabkan tentara Mataram pecah. 

Sultan Agung masih berusaha sekali lagi menyerang Batavia. Daerah Krawang yang masih berupa hutan dibuka oleh penduduk dari Jawa Tengah dan Sumedang untuk dijadikan sawah. Jalan-jalan juga dibuat untuk mempermudah perhubungan dengan Mataram. lajuga berusaha menjalin hubungan dengan Portugis di Malaka dan orang Inggris yang ada di Banten. Ia melarang hubungan perdagangan dengan Batavia. Pedagang-pedagang harus langsung berdagang dengan Malaka. 

Sementara itu, Sunan Giri berusaha berkuasa kembali di Jawa Timur setelah ia tahu kegagalan Sultan Agung menguasai Batavia. Gersik dihancurkan Sultan Agung pada tahun 1635, juga Blambangan pada tahun 1639, tetapi tidak lama kemudian Blambangan bergabung kembali dengan Bali. 

Belanda semakin kuat kedudukannya. Perdagangan dengan Maluku dikuasainya. Malaka dapat direbut dari tangan Portugis pada tahun 1641. Keadaan itu menyulitkan kedudukan Sultan Agung. Pada saat persiapan penyerangan Belanda hampir selesai, Sultan Agung meninggal pada tahun 1645 dalam usia 55 tahun. Kematiannya menyebabkan usaha membasmi benih penjajahan Belanda tidak berhasil. 

Sultan Agung merupakan raja yang besar dan panglima yang ulung. Ia banyakjasanya dalam bidang agama. Sultan Agung menjadi contoh bagi rakyatnya dalam menjalankan ibadah. Setelah menaklukkan Madura, ia bergelar Susuhunan atau Sunan (yang dijunjung). Gelar itu sebenarnya hanya diberikan kepada para wali saja. 

Ia membuat penanggalan baru, yaitu penanggalan Jawa-Islam dalam tahun 1633. Sebelum itu, penanggalan yang dipakai ialah penanggalan Saka yang didasarkan pada perhitungan matahari (1 tahun=3 65 hari). Tahun Jawaislam dibuat berdasarkan perhitungan bulan (1 tahun= 354 hari), sesuai penanggalan Islam. Tahun 1633 sama dengan tahun 1555 Saka atau 1555 tahun Jawa-Islam. 

Pengganti Sultan Agung adalah Amangkurat (1645 1677). Ia dikenal sebagai raja yang kejam dan tidak punya keberanian untuk menentang Belanda. Ia mengadakan perjanjian perdamaian dengan Belanda pada tahun 1646. Kehidupan rakyat sangat menyedihkan akibat peperangan yang dilakukan oleh Sultan Agung ditambah dengan perbuatan Amangkurat. Timbul pemberontakan yang dipimpin oleh Trunojoyo, seorang pangeran dari Arisbaya di Madura pada tahun 1674. 

Pemberontakan itu mendapat dukungan sepenuhnya dari pelaut-pelaut Makassar di bawah pimpinan Kraeng Galesong. Pemberontakan Trunojoyo kemudian diikuti oleh daerah-daerah pesisir Jawa Tengah dan Jawa Timur. Akibatnya, ibu kota Mataram, Plered, dapat dikuasai pada tahun l677. Amangkurat melarikan diri, tetapi sebelum mencapai Batavia, ia meninggal di Tegal Arum (dekat Tegal sekarang). 

Ia meninggalkan pesan agar putranya Amangkurat II mencari bantuan Belanda yang menjadi sekutunya. Permintaan dikabulkan Belanda. Amangkurat II mengadakan perjanjian dengan Belanda. Daerah Semarang diserahkan kepada Belanda (VOC) dan Amangkurat mengakui dan membantu monopoli Belanda. Belanda menyerang Trunojoyo yang bertahan di Kadiri pada tahun 1678. Akan tetapi, hal itu hanya bertahan selama satu tahun. Kemudian, Trunojoyo menyerah kerena terjadi perselisihan di antara mereka sendiri. 

Amangkurat II menjadi sunan setelah ia menerima mahkota dari Belanda pada tahun 1680. Sebagai imbalannya, ia harus menyerahkan Bogor, Krawang, dan Priangan kepada Belanda. Demikian juga, Cirebon harus mengakui kekuasaan Belanda. 

Amangkurat I I kemudian memindahkan keratonnya ke Kartasura. Di situ, Belanda juga mendirikan benteng untuk memberi perlindungan kepada Amangkurat. Ia meninggal pada tahun 1703. Kemenangan atas Trunojoyo menyebabkan Belanda menjadi sangat berkuasa. Malaka dan Mataram sudah dikuasai, tinggal Banten yang masih menjadi penghalang. 

Dalam awal abad ke-18 Kerajaan Mataram mengalami tiga kali perang perebutan kekuasaan yang menyebabkan daerah kerajaan tinggal daerah Bagelen, Kedu, dan Surakarta; Kemudian, Surakarta dibagi menjadi dua kerajaan. Kerajaan Surakarta dipimpin oleh Paku Buwono III, sedangkan Kerajaan Yogyakarta dipimpin Hamengku Buwono I. Pembagian kerajaan itu didasarkan Perjanjian Gianti pada tahun 1755. Dua tahun kemudian, daerah Surakarta dibagi lagi menjadi dua yaitu Kasunanan dan Mangkunegaran.

Demikian penjelasan tentang Sejarah Kerajaan Mataram Islam Lengkap. Semoga artikel ini dapat bermanfaat dan membantu kalian yang sedang belajar Sejarah Indonesia. - pendidikansejarah.com

Sejarah Kerajaan Banten

Sejarah Kerajaan Banten - Kerajaan Banten merupakan salah satu kerajaan Islam di Indonesia. Sejarah Kerajaan Islam ini bermula dari berkembangnya ajaran islam di Banten. Perkembangan ajaran islam ini tidak lepas dari ajaran yang disebarkan oleh Fatahillah. 

Fatahillah adalah menantu dari Sunan Gunung Jati. Ia kemudian menguasai seluruh pantai utara. Sunda Kalapa sebagai kota pelabuhan Kerajaan Pajajaran dijadikan bagian dari Banten pada tahun 1527. Namanya kemudian diganti menjadi Jayakarta. Daerah Cirebon diperintah oleh Pangeran Pasarean, anak Fatahillah. Pangeran Pasarean meninggal pada tahun 1552, dan Fatahillah yang menggantikannya. Daerah Banten ia serahkan kepada anaknya yang lain, Hasanuddin. 


peninggalan kerajaan banten
peninggalan kerajaan banten

Di Cirebon, Fatahillah lebih memusatkan perhatiannya dalam bidang keagamaan. Ia meninggal pada tahun 1570. Sementara itu, Banten di bawah pemerintahan Hasanuddin berkembang menjadi kerajaan yang kuat. Ia tidak menghiraukan lagi Kerajaan Demak sejak sekitar tahun 1550. Bahkan, Banten memutuskan hubungannya dengan Demak pada tahun 1568. Hasanuddin merupakan raja Banten pertama. Daerah kekuasaannya diperluas hingga Lampung. Ia menguasai perdagangan lada di daerah itu. Hasanuddin meninggal pada tahun 1570 dan digantikan oleh anaknya yang bernama Panembahan Yusup. 

Panembahan Yusup memperluas daerahnya dengan melenyapkan Kerajaan Pajajaran pada tahun 1579. Ia meninggal pada tahun 1580. Ia digantikan oleh putranya yang bernama Maulana Muhammad yang saat itu baru berusia 9 tahun. Dalam pemerintahannya Maulana Muhammad didampingi oleh seorang mangkubumi. Palembang diserang pada tahun 1596. Penguasa Palembang, Ki Gede ing Suro, adalah seorang penyebar agama Islam keturunan Surabaya. Ia adalah pendiri kesultanan Palembang dan sangat setia kepada Mataram. Palem bang mengalami kemajuan sehingga menjadi saingan Banten Pada masa pemerin-tahannya (1 572 -1 627). Maulana Muhammad terbunuh saat penyerangan ke Palembang. Orang Belanda datang di pelabuhan Banten untuk berdagang dalam tahun 1596.

Meninggalnya Maulana Muhammad menimbulkan perselisihan. Putera mahkota, Abdulmufakhir, baru berumur 5 bulan, sehingga pemerintahan dipegang oleh seorang mangkubumi. Perwalian inilah yang menimbulkan perselisihan. Perselisihan baru reda setelah Pangeran Ranamenggala dengan kekerasan mengatur pemerintahan. Pemerintahan terus berlangsung meskipun raja telah dewasa. Pangeran Ranamenggala meninggal tahun 1624 . 

Sejak masa pemerintahan Sultan Abdulmufakhir Kerajaan Banten mulai mundur, ditambah lagi dengan semakin kuatnya kedudukan Belanda di Batavia. Penggantinya adalah Sultan Ageng Tirtayasa (1651 --1682 ). Ia sangat tegas dalam menghadapi orang Belanda, dan melindung orang-orang yang lari dari Batavia dan beragama lslam. Di antaranya ialah Cardeel seorang Belanda beragama Islam. 

Kepandaiannya dalam bidang bangunan dimanfaatkan Sultan Ageng untuk mendirikan bangunan-bangunan gaya Belanda di Banten, seperti benteng Kota Inten, bangunan madrasah di samping Masjid Banten, dan pesanggrahan Tirtayasa. Atasjasanya, Cardeel kemudian diangkat menjadi pangeran dengan nama Wiranagara. 

Selama pemerintahannya, Sultan Ageng Tirtayasa tiga kali berperang melawan Belanda. Pada waktu Belanda sedang sibuk melawan Trunojoyo, Tirtayasa juga sedang berselisih dengan anaknya yang bernama Sultan Haji yang cenderung memihak Belanda.

Dalam perselisihan itu Sultan Haji terdesak dan minta bantuan Belanda. Belanda mau membantu setelah Sultan Haji mau menandatangani perjanjian yang merugikan Banten sebagai negara merdeka. Tirtayasa terdesak dan melarikan diri ke pedalaman pada tahun 1683, tetapi akhirnya tertangkap. Ia ditawan di Batavia dan meninggal pada tahun 1692. Sultan Haji diangkat sebagai raja oleh Belanda. 

Berakhirnya kedaulatan Mataram dan Banten pada akhir abad ke 17 membuat Belanda dapat menguasai Nusantara. Sementara itu, banyak pembesar kerajaan yang tidak mau tunduk begitu saja, Akibatnya, sering timbul kerusuhan, pemberontakan, dan perebutan kekuasaan. Keadaan itu semakin menguntungkan kedudukan Belanda. 

Pada tahun 1750 terjadi perebutan kekuasaan. Sultan Arifin, yang memerintah di Banten saat itu, tidak berdaya menghadapi permaisurinya, Fatimah, yang menginginkan tahta Kerajaan Banten untuk kemenakannya. Fatimah dengan bantuan Belanda berhasil menyingkirkan putra Sultan dari permaisuri yang pertama. 

Sementara itu, para ulama di bawah pimpinan Kyai Tapa berontak dan mengangkat Ratu Bagus Buang sebagai sultan mereka. Belanda kemudian menentukan nasi Banten. Mahkota diberikan kepada Pangeran Gusti yang dahulu disingkirkan.

Tindakan yang dilakukan Belanda tersebut menyebabkan permusuhan dan peperangan mulai mereda. Namun, Kyai Tapa dan Ratu Bagus tidak mau mengakui keputusan Belanda. Mereka kemudian mengembara ke pedalaman dan pergi dari wilayah Banten.

Demikian penjelasan lengkap tentang Sejarah Kerajaan Banten. Semoga artikel ini bermanfaat dan berguna bagi kalian yang sedang mempelajari Sejarah Indonesia. - pendidikansejarah.com -

Rabu, 22 November 2017

Raja Pertama Kerajaan Pajang

Raja Pertama Kerajaan PajangKerajaan Pajang adalah salah satu kerajaan islam di Indonesia. Kerajaan Islam ini didirikan pada tahun 1568. Kerajaan Pajang meraih masa kejayaan pada masa pemerintahan Pangeran Hadiwijaya. 


Raja Kerajaan Pajang
Joko Tingkir
Pangeran Hadiwijaya adalah raja pertama Kerajaan Pajang. Beliau terkenal dengan nama Joko Tingkir. Kedudukannya disahkan Sunan Giri dan diakui oleh adipati di seluruh Jawa Tengah dan Jawa Timur. Demak sendiri berubah statusnya menjadi kadipaten dengan adipatinya Arya Pangiri. Ia adalah salah seorang anak Sultan Prawoto. Arya Pangiri diangkat oleh Sultan Pajang. 

Pengikut Hadiwijaya yang berjasa dalam perang melawan Arya Penangsang adalah Kyai Ageng Pamanahan. Ia diberi hadiah daerah Mataram (dekat Kota Gede, Yogyakarta sekarang) untuk tempat tinggalnya. Ia dikenal dengan sebutan Kyai Gede Mataram, dan merupakan perintis berdirinya Kerajaan Mataram. Mataram menjadi maju di bawah pimpinan Kyai Gede Mataram. Ia meninggal pada tahun 1575. Putranya, Sutawijaya, melanjutkan pembangunan daerahnya. Ia kemudian menjadi senapati ing alaga (panglima perang). 

Kerajaan Pajang mengalami masa keruntuhan ketika Pangeran Hadiwijaya meninggal dunia. Raja pertama kerajaan Pajang ini meninggal pada tahun 1582. Beliau mempunyai putra bernama Pangeran Benawa. Putra raja ini kemudian disingkirkan oleh Arya Pangiri dari Demak. Pangeran Benowo kemudian dijadikan Adipati Jipang. Arya Pangiri kemudian menjadi penguasa atau raja Kerajaan Pajang.


Arya Pangiri tidak disenangi rakyat karena tindakannya yang banyak merugikan rakyat. Kenyataan tersebut menyebabkan Pangeran Benowo berusaha merebut tahta Kerajaan Pajang. Beliau kemudian meminta bantuan Senopati dari Mataram. 

Pertempuran ini menyebabkan keruntuhan Kerajaan Pajang yang telah mencapai puncak kejayaan bersama Jaka Tingkir. Peperangan dimenangkan oleh Pangeran Benowo dan Arya Pangiri menyerah pada Senopati. Pada akhirnya, Pangeran Benowo sendiri mengakui kekuasaan Senopati dari mataram.

Demikian Penjelasan lengkap tentang sejarah singkat kerajaan Pajang dan Raja Pertama Kerajaan Pajang. Semoga artikel ini bermanfaat dan berguna bagi kalian yang sedang mempelajari sejarah Indonesia. pendidikansejarah.com 

Kamis, 09 November 2017

8 Peran Indonesia dalam Gerakan Non Blok (GNB) dan Sejarahnya Lengkap

Peran Indonesia dalam Gerakan Non Blok (GNB) - Gerakan Non Blok atau sering kita sebut GNB adalah gerakan yang tidak memihak blok manapun yang menjadi pusat kekuatan di dunia saat itu. Gerakan non blok didirikan dengan tujuan untuk meredam peperangan yang sangat dahsyat antara kedua kubu atau blok pada jaman dulu.
peran indonesia dalam gnb
peran indonesia dalam gnb
Indonesia menjadi salah satu anggota mempunyai peran penting dari sejumlah negara yang mengikuti organisasi ini. Namun negara Indonesia tidak hanya menjadi penonton dalam organisasi ini, Indonesia merupakan salah satu pendiri dan termasuk negara dengan peran penting di dalam organisasi.

Sejarah Berdirinya Gerakan Non-Blok (GNB)

Awal mula berdirinya gerakan non blok (gnb) terjadi setelah Perang Dunia II berakhir. Akibat perang besar tersebut mengakibatkan dunia ini terbagi menjadi dua blok yang saling bertentangan yaitu blok barat dan blok timur. Blok barat merupakan kumpulan negara-negar Liberal yang dipimpin oleh Amerika, sementara blok timur mempunyai paham Komunis yang dipimpin oleh Rusia.

* Peran Indonesia dalam Gerakan Non Blok (GNB) *

Kedua blok ini sangat bertentangan dan rawan menimbulkan perang dunia selanjutnya. Oleh karena beberapa negara yang tidak memihak atau mengikuti kedua blok tersebut membentuk suatu gerakan agar meredam perpecahan antara kedua blok tersebut. Gagasan munculnya gerakan non-blok ini di prakarsai oleh beberapa negara netral seperti Indonesia, India, Mesir, Ghana, dan Yugoslavia.

Pemimpin dari masing-masing tersebut mengadakan pertemuan yang akhirnya membuat keputusan yang menjadi awal sejarah baru bagi masyarakat dunia. Pada tanggal 1 September 1961 berdirilah Gerakan Non Blok atau Non-Aligned Movement (NAM). Gerakan ini sebenarnya timbul karena termotivasi oleh Dasasila Bandung yang disepakati pada Konferensi Asia Afrika tahun 1955.

Berikut daftar pemimpin negara yang memprakarsai GNB :

  • Presiden Indonesia : Soekarno
  • Perdana Menteri India : Pandit Jawaharlal Nehru
  • Presiden Mesir : Gamal Abdel Naser
  • Presiden Yugoslavia : Josep Broz Tito
  • Presiden Ghana : Kwame Nkrumah

Pertemuan Gerakan Non-Blok

  1. KTT I diadakan di Belgrade pada tanggal 1 September 1961 – 6 September 1961
  2. KTT II diadakan di Kairo pada tanggal 5 Oktober 1964 – 10 Oktober 1964
  3. KTT III diadakan di Lusaka pada tanggal 8 September 1970 – 10 September 1970
  4. KTT IV diadakan di Aljir pada tanggal 5 September 1973 – 9 September 1973
  5. KTT V diadakan di Kolombo pada tanggal 16 Agustus 1976 – 19 Agustus 1976
  6. KTT VI diadakan di Havana pada tanggal 3 September 1979 – 9 September 1979
  7. KTT VII diadakan di New Delhi pada tanggal 7 Maret 1983 – 12 Maret 1983
  8. KTT VIII diadakan di Harare pada tanggal 1 September 1986 – 6 September 1986
  9. KTT IX diadakan di Belgrade pada tanggal 4 September 1989 – 7 September 1989
  10. KTT X diadakan di Jakarta pada tanggal 1 September 1992 – 7 September 1992
  11. KTT XI diadakan di Cartagena de Indias pada tanggal 18 Oktober 1995 – 20 Oktober 1995
  12. KTT XII diadakan di Durban pada tanggal 2 September 1998 – 3 September 1998
  13. KTT XIII diadakan di Kuala Lumpur pada tanggal 20 Februari 2003 – 25 Februari 2003
  14. KTT XIV diadakan di Havana pada tanggal 11 September 2006 – 16 September 2006

Tujuan Gerakan Non Blok

Tujuan gerakan ini seperti yang saya sebutkan diatas yaitu untuk meredakan perang anatar dua blok yang sedang berseteru. Selain itu gerakan ini juga mempunyai tujuan lain yaitu untuk menjaga solidaritas antara negara anggota yang merupakan negara berkembang dalam mencapai kemakmuran dan kemerdekaan.

Peran Indonesia dalam Gerakan Non Blok (GNB)

  1. Indonesia merupakan salah satu negara pemprakarsa lahirnya GNB.
  2. Presiden Soekarno adalah satu dari lima pemimpin dunia yang mendirikan GNB;
  3. Presiden Indonesia Soekarno menjadi duta untuk menyampaikan keputusan KTT non blok I kepada Presiden Amerika serikat John F. Kennedi.
  4. Indonesia menjadi penyelenggara dan ketua Gerakan Non Blok (GNB) dalam KTT GNB di Jakarta pada bulan September 1992.
  5. Presiden Indonesia yang kedua Soeharto merintis dibukanya kembali Dialog Untara Selatan yang telah lama mengalami pemutusan, yakni dalam KTT G-7 di Tokyo Jepang tahun 1993.
  6. Indonesia selalu mengusulkan dalam KTT GNB tentang kemajuan Ekonomi, penghapusan penjajahan, dan kemurnian GNB tetap dipertahankan.
  7. Presiden Indonesia Soeharto menjadi pemimpin atau ketua GNB pada KTT X GNB di Jakarta di tahun 1991.
  8. Indonesia mempunyai peran penting dalam meredakan ketegangan atau perpecahan di wilayah bekas Yugoslavia pada tahun 1991.
Demikian penjelasan pendidikan sejarah tentang peran Indonesia dalam Gerakan Non Blok (GNB) dan sejarahnya secara lengkap. Silahkan ikuti pembahasan materi Sejarah Indonesia di www.pendidikansejarah.com

Rabu, 08 November 2017

Jenis Manusia Purba dan Ciri-cirinya

Jenis manusia purba di Indonesia secara garis besar dibagi menjadi 3 jenis. Hal ini dapat kita ketahui berdasarkan penemuan-penemuan fosil manusia purba oleh para peneliti sejarah. Seperti yang telah kita bahas pada artikel sebelumnya tentang Pengertian Manusia Purba bahwa manusia purba adalah manusia yang hidup di masa lampau dan belum mengenal apa itu tulisan (Zaman Prasejarah).
Baca Selengkapnya artikel Pembabakan Zaman Prasejarah
Penemuan fosil-fosil manusia purba di Indonesia membuat nama Indonesia menjadi terkenal. Selain itu, Indonesia tercatat sebagai negara yang penting bagi penelitian sejarah dan perkembangan kehidupan manusia di masa lampau. Banyak peneliti dari luar negeri datang ke Indonesia karena tertarik mempelajari manusia purba.

Jenis Manusia Purba
Manusia Purba

Jenis Manusia Purba di Indonesia

Di dunia ini terdapat beraneka ragam jenis manusia purba. Berbagai penamaan berbeda biasanya tergantung dimana ditemukan dan siapa yang menemukan. Di Indonesia secara umum terdapat 3 Jenis manusia purba yaitu Megantropus Paleojavanicus, Pithecantropus, dan Homo Sapiens. Berikut ini penjelasan lengkap tentang jenis manusia purba dan ciri-cirinya.

1. Megantropus Paleojavanicus 

Dalam penelitian di Sangiran, Von Koenigswald berhasil menemukan rahang atas dan rahang bawah pada sekitar tahun 1936-1941. Hasil penemuannya diberi nama Megantropus Paleojavanicus dan diperkirakan sebagai manusia pertama yang hidup di Pulau Jawa. Manusia purba itu diperkirakan hidup antara 2 juta tahun hingga 1 juta tahun yang lalu. Mereka hidup dengan mengumpulkan makanan, terutama tumbuh-tumbuhan.

2. Pithecantropus

Pithecantropus merupakan fosil yang pertama ditemukan dan dipublikasikan sehingga saat itu menggemparkan dunia Ilmu Pengetahuan. Jenis manusia purba ini paling banyak ditemukan di Indonesia. Ada 3 Jenis manusia purba Pithecantropus yang ditemukan di Indonesia yaitu Pithecantrops Mojokertensis, Pithecantropus Soloensis, dan Pithecantropus Erectus.

Kehidupan Pithecantropus tergolong sederhana, mereka makan segala yang ada di alam. Selain itu, mereka mencari makan dengan berburu dan mengumpulkan makanan. Makanan yang mereka makan belum dimasak atau diolah terlebih dahulu. Tempat tinggal manusia purba ini di padang terbuka dan selalu hidup berkelompok.

3. Homo Sapiens

Manusia Homo Sapiens ini diperkirakan ada setelah Zaman Batu Tua (Paleolitikum) berakhir. Jadi mereka hidup pada Zaman Mesolitikum atau Zaman Batu Tengah. Kedua zaman ini telah saya bahas lengkap pada artikel Pembagian Zaman Batu. Fosil manusia purba dari jenis Homo Sapiens ditemukan di Wajak. Rangka spesies ini pertama kali ditemukan sekitar tahun 1980 di dekat desa Wajak, Tulung Agung, Jawa Timur.

Penemuan Wajak mengisyaratkan kepada kita bahwa sekitar 40 ribu tahun yang lalu di Indonesia sudah ada kehidupan. Fosil manusia dari Wajak atau Homo Wajakensis ini ternyata tidak hanya ditemukan di Indonesia. Homo Wajakensis juga ditemukan di Serawak (Malaysia), Tabon (Philiphina), dan di daerah China Selatan.

Kehidupan manusia purba ini sudah lebih maju dibandingkan jenis-jenis manusia purba sebelumnya. Mereka sudah dapat membuat alat-alat dari batu maupun tulang seperti perlengkapan berburu dan alat untuk mengumpulkan makanan. Disamping itu, manusia purba ini sudah dapat mengolah hasil, memasak makanan, dan menguliti binatang.

Demikian penjelasan lengkap tentang Jenis Manusia Purba di Indonesia. Semoga artikel ini bermanfaat dan bisa membantu kalian yang sedang membutuhkan informasi mengenai materi sejarah. Simak update materi sejarah kami di blog www.pendidikansejarah.com.

Zaman Logam dan Pembagian Zaman Logam

Zaman Logam merupakan salah satu bagian dari zaman prasejarah. Disebut Zaman Logam karena alat-alat penunjang kehidupan manusia sebagian besar terbuat dari logam. Zaman Logam terbagi menjadi 3 zaman yaitu Zaman Tembaga, Zaman Perunggu, Zaman Besi.

Pambagian Zaman Logam

Berdasarkan temuan barang-barang dari logam timbul dugaan tentang terjadinya persebaran atau perpindahan bangsa-bangsa Indonesia. Selain itu, juga bisa terjadi karena adanya hubungan dagang antara bangsa-bangsa Indonesia dengan bangsa-bangsa Asia yang telah mengenal logam.

Pembagian Zaman Logam
Ilustrasi kehidupan pada zaman logam

Pembagian zaman logam di Indonesia dibagi menjadi 3 zaman yaitu zaman tembaga, zaman perunggu, dan zaman besi. Berdasarkan jenis logam yang ditemukan oleh para ahli, maka zaman perunggu yang paling dikenal di Indonesia. Berikut ini penjelasan lengkap tentang 3 Zaman Logam:

1. Zaman Tembaga

Pada Zaman Tembaga manusia sudah dapat mengolah logam tembaga yang disesuaikan dengan bentuk-bentuk peralatan yang dibutuhkan sehari-hari. Namun, pada zaman ini tidak pernah mempengaruhi masyarakat Indonesia karena tidak ditemukannya bukti bahwa zaman Tembaga pernah berkembang di Indonesia.

2. Zaman Perunggu

Pada Zaman Perunggu manusia sudah mampu membuat alat-alat dari perunggu yang merupakan logam campuran antara timah dan tembaga. Pada Zaman ini peralatan yang dikenal luas adalah kapak perunggu. Disamping itu ada pula tombak besar bermata lebar seperti kapak. Tombak itu sangat indah dan kemungkinan digunakan sebagai benda-benda upacara, misalnya memohon turunnya hujan.

3. Zaman Besi

Pada Zaman Besi manusia sudah dapat melebur bijih-bijih besi dalam bentuk alat-alat yang diperlukan untuk menunjang kehidupannya. Di Indonesia, penemuan-penemuan benda dari besi terbatas jumlahnya jika dibandingkan dengan benda-benda dari perunggu.

Peralatan-peralatan dari besi yang ditemukan di Indonesia antara lain mata kapak, mata pisau, tombak, dan gelang besi. Zaman ini juga memperlihatkan kepada kita bahwa pada masa lalu sudah terjadi perkembangan teknologi. Menurut para ahli sejarah, pembuatan alat-alat besi ini menunjukan kebudayaan yang lebih maju dibandingkan dengan cara pembuatan alat-alat dari perunggu.
Baca juga artikel kami lainnya :
Demikian artikel tentang Zaman Logam dan Pembagian Zaman Logam. Semoga artikel ini dapat membantu dan bermanfaat untuk kalian. Silahkan ikuti terus update artikel sejarah terbaru dan terlengkap di blog pendidikansejarah.com.

Pembagian Zaman Batu (Pengertian dan Ciri-Cirinya)

Melanjutkan artikel Pembabakan Zaman Prasejarah, kali ini saya akan menjelaskan secara lengkap mengenai Zaman Batu. Zaman Batu merupakan salah satu zaman pada masa prasejarah. Zaman Batu dibagi menjadi menjadi 4 Zaman yaitu Zaman Batu Tua, Zaman Batu Madya, Zaman Batu Muda, dan Zaman Batu Besar.

Pembagian Zaman Batu
Ilustrasi artefak Zaman Batu


Pengertian Zaman Batu

Istilah Zaman Batu ini dikarenakan pada zaman itu alat-alat penunjang kehidupan manusia sebagian besar terbuat dari batu. Alat-alat tersebut dibuat untuk menunjang keperluan hidup mereka, contohnya untuk mencari dan mengolah makanan.

Berdasarkan sumber sejarah yang berupa alat-alat tersebut dapat diketahui bagaimana cara hidup mereka, misalnya pikiran mereka masih sederhana. Kemudian seiring perkembangan zaman menjadi berkembang ke arah yang lebih kompleks sesuai sumber sejarah yang ditemukan, contohnya proses pembuatan alat menjadi lebih halus dibandingkan sebelumnya.

Namun, bukan berarti pada Zaman Batu hanya ada peralatan dari batu saja. Pada zaman itu juga ditemukan alat-alat yang terbuat dari bambu/kayu meskipun tidak ditemukan bukti. Para ahli sejarah sepakat jika alat-alat yang terbuat dari kayu/bambu mudah lapuk sehingga bukti sejarahnya pun hilang.

Pembagian Zaman Batu 

Zaman Batu dibagi menjadi 4 zaman seperti yang telah kita bahas di awal artikel. Berikut ini merupakan Pembagian 4 Zaman Batu lengkap dengan Penjelasan dan ciri-cirinya.

Zaman Batu Tua (Paleolitikum)

Zaman Batu Tua disebut juga dengan Zaman Paleolitikum. Pada zaman ini kehidupan manusia masih sangat sederhana. Mereka hidup secara berkelompok (satu kelompok kecil berkisar 10-15 orang). Tempat tinggal manusia zaman ini berpindah-pindah dari tempat satu ke tempat lainnya atau nomaden menyesuaikan usaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Kebutuhan makanan mereka sepenuhnya tergantung pada alam, sehingga cara mereka mencari makan sering disebut food gathering (mengumpulkan makanan) dan berburu. Pada umumnya, mereka tidak berfikir tentang hari esok. Jadi apa yang diperoleh hari ini langsung dihabiskan pada hari ini juga.
Peralatan-peralatan mereka terbuat dari batu yang kasar. Mereka belum berpikir untuk menghaluskan atau diupam. Jadi alat-alat kehidupan pada masa itu masih berupa batu yang kasar. Contoh alat-alat kehidupan pada Zaman Paleolitikum seperti kapak genggam dan alat-alat dari tulang dan tanduk hewan.

Zaman Batu Madya (Mesolitikum)

Zaman Batu Madya disebut juga Zaman Mesolitikum. Pada zaman ini manusia sudah mulai hidup menetap dan tidak nomaden lagi. Disamping itu, mereka juga sudah membuat rumah-rumah panggung di tepi pantai, tepi gua, dan ceruk-ceruk batu padas. Selain itu, mereka juga sudah mulai mengenal bercocok tanam secara sederhana.

Mereka memilih tempat tinggal yang terlindung dari ancaman binatang buas, seperti pada gua-gua dekat aliran sungai. Pada gua-gua ini banyak ditemukan artefak-artefak sebagai bukti bahwa pernah terjadi kehidupan disana. Artefak adalah benda-benda kebudayaan manusia pada masa lampau yang berhasil ditemukan melalui penggalian. Contoh Artefak berupa perhiasan-perhiasan, pecahan gerabah, dan periuk belangga.

Dari penemuan gambar-gambar pada dinding gua dekat daerah Maros (Sulawesi Selatan) dapat diketahui bahwa mereka mempunyai jiwa seni. Mereka membuat tapak tangan berwarna merah dan gambar seekor babi hutan.

Pada Zaman Mesolitikum kehidupan masih bersumber dari alam seperti pada Zaman Paleolitikum. Peralatan mereka terbuat dari batu yang belum dihaluskan dan tulang/tulang binatang. Satu hal yang membedakan dari zaman sebelumnya adalah pembuatan gerabah dan periuk belangga.

Selain itu, mereka juga melakukan pembagian pekerjaan berdasarkan jenis kelamin. Orang laki-laki berburu binatang, sementara perempuan mengurus anak, mencari buah/sayur, dan membuat anyaman seperti keranjang.

Zaman Batu Muda (Neolitikum)

Zaman Batu Muda disebut juga Zaman Neolitikum. Pada zaman ini manusia sudah mempunyai tempat tinggal tetap dalam suatu lingkungan secara berkelompok. Mereka sudah mulai bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhan mereka (food producing).

Alat-alat kehidupan mereka terbuat dari batu-batu yang sudah dihaluskan secara sempurna. Contoh alat-alat kehidupan pada zaman Neolitikum seperti kapak-kapak persegi yang telah diberi hiasan yang indah. Hal ini menunjukan pada zaman itu perkembangan seni dan jiwa seni mereka meningkat dari zaman sebelumnya.

Selain itu, contoh peralatan lainnya berupa kapak lonjong. Bentuknya seperti bundar telur dan agak meruncing pada ujungnya untuk menempatkan gagang/tangkai. Tangkai/pegangan kapak lonjong berupa batu kecil yang dihubungkan menggunakan rotan. Pada zaman sekarang kapak lonjong masih banyak ditemukan di daerah Papua/Irian, hal ini menjadi bukti peninggalan kebudayaan Neolitikum.

Benda peninggalan kebudayaan zaman Neolitikum lainnya adalah Perhiasan gelang dan kalung yang terbuat dari batu. Jadi kehidupan pada Zaman Neolitikum ini sudah mengalami perkembangan yang sangat besar dibandingkan zaman-zaman sebelumnya.

Para ahli sejarah menganggap pada zaman ini telah terjadi sebuah revolusi dalam kehidupan manusia. Revolusi yang dimaksudkan adalah terjadinya perubahan sifat kehidupan dari mengumpulkan makanan dan bergantung pada alam (food gathering) menjadi usaha mengolah dan menghasilkan sendiri dalam mencukupi kehidupan hidup (food producing).
Baca juga artikel lain tentang:

Zaman Batu Besar (Megalitikum)

Zaman Batu Besar disebut juga Zaman Megalitikum. Pada zaman ini manusia sudah mampu membuat bangunan-bangunan yang terbuat dari batu besar. Zaman ini berlangsung dari akhir zaman Neolitikum hingga Zaman perunggu/logam. Kehidupan manusia pada zaman ini sudah terstruktur dan teratur serta telah mengenal istilah sistem pemerintahan.

pembagian Zaman Batu
Bangunan Megalitik

Bangunan-bangunan pada Zaman Megalitik disebut juga bangunan Megalitik (Bangunan yang terbuat dari batu besar). Pada umumnya, bangunan Megalitik terbuat dari batu inti yang utuh kemudian diberi bentuk dan dipahat sesuai kebutuhan.

Bangunan Megalitik banyak sekali ditemukan di daerah-daerah Indonesia seperti Jawa, Sumatera Barat dan Selatan, Sulawesi Tengah, dan Kalimantan. Tradisi-tradisi Zaman Megalitikum berhubungan dengan unsur kepercayaan yang mendorong terciptanya benda-benda dan bangunan-bangunan Megalitik.

Demikian penjelasan lengkap tentang Pembagian Zaman Batu, semoga membantu dan bermanfaat. Untuk mengikuti penjelasan lengkap tentang materi sejarah silahkan kunjungi blog kami pendidikansejarah.com

Contact Me

Nama

Email *

Pesan *